Senin, 01 Juni 2009

oleh-oleh dari PT KIMA

GAMBARAN UMUM INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) PT KIMA


Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dikunjungi merupakan salah satu fasilitas yang ada di PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA) sebagai jalan keluar dari permasalahn limbah cair dari lebih 200 perusahaan di dalamnya. PT KIMA terbentang di atas areal seluas 703 Ha, terletak 15 km dari pusat kota Makassar yang juga ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Ditempuh 20 menit dari pelabuhan laut, 30 menit dari Bandar Udara Hasanuddin.
Tujuan dari keberadaan IPAL ini adalah untuk menampung dan mengolah semua limbah cair dari berbagai jenis industri yang berlokasi di dalam PT KIMA adapun PT KIMA ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan komposisi saham saat ini terdiri atas beberapa unsur antara lain Pemerintah RI (60%), Pemerintah Propinsi Sul-Sel (30%), dan Pemerintah Kota Makassar (10%).
Setelah sebelumnya berhasil mendapat pengakuan internasional berupa sertifikat ISO 9001, saat ini KIMA tengah berbenah mengejar ISO 14000, sebuah lisensi standarisasi kelayakan perusahaan dalam manajemen lingkungan. Selain itu, KIMA juga telah menggalang kemitraan dengan dunia internasional. Tahun 1992 telah dilakukan penandatanganan perjanjian kawasan perdagangan antara Trade Development Zone Darwin (TDZA) dengan KIMA, dan bermitra dengan China National Heavy Machinery Indutry tahun 2002 dalam bidang Informasi Bisnis, Ekonomi, Perdagangan, Industri dan peningkatan SDM.
Dengan posisi PT KIMA saat ini yang telah memperoleh sertifikast ISO 9001 dan tengah berbenah mengejar ISO 14000, bisa diprediksiskan bahwa komitmen kawasan industri ini terhadap lingkungan tergolong bagus. Dari hasil wawancara terhadap pegawai operasional IPAL PT KIMA, limbah hasil olahan telah memenuhi standar baku mutu untuk dibuang ke lingkungan tetapi dari berita-berita yang beredar, pencemaran lingkungan terutama pesisir Losari sering dikaitkan dengan limbah dari PT KIMA.


BEBAN LIMBAH DAN SUMBERNYA


Beban limbah yang masuk ke IPAL PT KIMA setiap harinya bervariasi tergantung dari laju produksi perusahaan-perusahaan. Ada 210 perusahaan di PT KIMA yang menyalurkan limbahnya ke IPAL ini. Adapun kapasitas pengolahan dari IPAL yaitu mencapai 3000 m3.
Kedua ratus sepuluh industri yang menjadi sumber limbah cair yang masuk ke IPAL PT KIMA bergerak dalam bidang pembuatan makanan, minuman, stirofoam, gas, dan kayu. Di kawasan ini juga terdapat perusahaan yang menangani logam tetapi hanya berupa pendistribusi, tidak memproduksi logam langsung sehingga kemungkinan perusahaan tersebut tidak terlalu menghasilkan limbah yang berbahaya dibanding perusahaan yang memproduksi langsung logam.


PROSES PENGOLAHAN


Pada proses pengolahan air limbah di IPAL PT KIMA, pada dasarnya terdapat 3 komponen besar yaitu :
1. Ruang penerimaan (first treathment)
Di ruangan inilah limbah-limbah dari semua perusahaan ditampung. Proses yang terjadi pada ruangan ini adalah proses fisik (mekanik). Di ruangan ini terdapat alat khusus yang berfungsi sebagai perangkap sampah-sampah padat, seperti plastik. Dengan demikian sampah tersebut tidak akan mengganggu proses pengolahan lebih lanjut.
Sampah yang terperangkap dipindahkan ke satu wadah khusus dan dibuang ke tempat penampungan sampah untuk selanjutnya dibawa ke TPA.

2. Equalizing basin
Setelah air mengalami proses pengolahan pertama di ruang penerimaan, air kemudian menuju equalizing basin, tepatnya ke bagian pinggir bagian tengah akan diisi oleh limbah dari oxidation ditch.
Di tahap ini, dilakukan proses minimisasi atau peghilangan lumpur. Langkah pertama yaitu lumpur dijebak dalam satu alat khusus kemudian air yang lolos disaring dengan saringan yang lebih halus untuk semakin mengurangi lumpur atau padatan yang terkandung. Selanjutnya air menuju ke oxidation ditch.

3. Oxidation ditch
Oxidation ditch merupakan satu kolam berbentuk “u” dimana pada tahap ini terjadi proses biologi yaitu mengaktifkan kerja bakteri aerob. Mekanisme yang dilakukan yaitu dengan membentuk kuncup air (ada ware) sehingga air dapat berinteraksi dengan udara. Dengan demikian terjadi pengikatan oksigen oleh air. Oksigen ini kemudian digunakan oleh bakteri-bakteri untuk menguraikan polutan dalam air menjadi bahan-bahan yang lebih aman antara lain sebagai berikut :
- Karbohidrat CO2 + H2O
- Nitrat nitrit
- Lemak asam lemak
- protein asam amino

Agar proses yang terjadi di dalam oxydation ditch berlangsung lancar diperlukan sedikit lumpur. Oleh karena itu pada tahap ini juga terjadi proses pemasukan lumpur dari tahap sebelumnya. Oleh karena itu pada tahap ini dikenal istilah lumpur kembali.
Setelah proses tersebut, limbah kemudian menuju ke bagian tengah equalizing basin. Di tahap ini air mengalami proses sedimentasi dan pembersihan dari sampah-sampah padat yang kemungkinan masuk selama proses pengolahan.
Proses selanjutnya yaitu penyaringan ulang dengan saringan yang lebih halus untuk semakin mengurangi padatan yang terlarut. Proses ini terjadi pada semacam kotan di dekat equalizing basin yang disebut blower room. Selanjutnya dihasilkanlah limbah yang memenuhi baku mutu dan aman untuk lingkungan.
Lumpur hasil dari pengolahan dimasukkan ke drying bed, selanjutnya didistribusikan ke PT Tonasa untuk dijadikan bahan bakar.

PRESTASI IPAL PT.KIMA


Dengan proses pengolahan sepert di atas, IPAL PT KIMA telah meraih prestasi berupa telah berhasil mendapat pengakuan internasional berupa sertifikat ISO 9001, saat ini KIMA tengah berbenah mengejar ISO 14000, sebuah lisensi standarisasi kelayakan perusahaan dalam manajemen lingkungan.
Di samping lisensi tersebut, saat ini status IPAL PT KIMA adalah BLUE, satu tingkat di bawah GREEN. Untuk selanjutnya IPAL PT KIMA terus berupaya meningkatkan kualitasnya untuk mencapai status GREEN tersebut.
Air limbah yang telah diolah dari IPAL PT KIMA digunakan oleh masyarakat di sekitar kawasan tersebut untuk menyiram dan mengairi tambak atau sawah mereka. Hingga saat ini, belum ada keluhan atau tuntutan dari masyarakat yang menggunakannya. Selain itu, dari tambak yagn dijadikan indikator, ikan-ikan juga tidak bermasalah sehingga dapat dikatakan bahwa limbah hasil pengolahan IPAL tersebut telah memenuhi standar baku mutu.


USAHA-USAHA PENINGKATAN KUALITAS


Untuk tetap menjamin dan meningkatkan kualitas limbah cair hasil olahan dari IPAL PT KIMA serta sebagai usaha-usaha untuk meraih ISO 14000 dan mencapai status GREEN, PT KIMA telah melakukan berbagai upaya, antara lain :
1. Diadakan uji lab terhadap limbah dari industri-industri tiap harinya untuk menentukan teknik perlakukan yang maksimal dalam proses pengolahan.

2. Telah dibuat tambak percontohan atau tambak indikator. Tambak ini dialiri air hasil pengolahan dari IPAL. Bila ikan-ikan di dalam tambak bermasalah. Misalnya mati maka dapat disimpulkan bahwa hasil pengolahan telah melewati ambang batas sehingga dapat segera diambil langkah keluar.
3. Bila ada kerusakan, para petugas segera turun tangan tanpa menunggu waktu. Dengan demikian hasil pengolahan kemungkinan besar terus dalam kondisi yang baik.
4. Mengontrol setiap harinya proses pegolahan yang berlangsung untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar.
















Selasa, 12 Mei 2009

intermezoooo

katakan pada dunia : kamu dan aku bahagia
semoga cinta kita kan terjaga selamanya.....

Rabu, 03 Desember 2008

in my mind, INSEKTISIDA........

Penggunaan insektisida untuk memberantas nyamuk merupakan bentuk pengendalian vektor lewat jalur kimia. Dua hal terbesar yang menjadi pertimbangan berkaitan dengan penggunaan bahan kimia ini yaitu adanya kecenderungan resistensi vektor dan dampak kesehatan yang bisa ditimbulkan. Kedua hal ini merupakan masalah yang cukup besar sehingga diperlukan alternatif pemecahan.
Penelitian ini menurut saya sangat tepat dilakukan untuk menjawab permasalahan resistensi di atas. Penelitian ini menggambarkan efektifitas penggunaan insektisida dari golongan pyrethroid (Alphacypermethrin, cypermethrin, dan lambdacyhalothrin), membandingkan efektifitas penggunaan ketiganya kemudian membandingkannya dengan efektifitas penggunaan malathion dari golongan organofosfat yang umum digunakan.
Dari hasil yang diperoleh, diketahui bahwa Untuk pengendalian vektor demam berdarah dengue Ae. aegypti, efektivitas insektisida berbahan aktif alphacypermethrin dan cypermethrin lebih baik dibanding dengan yang berbahan aktif lambdacyhalothrin dan hasilnya setara dengan malathion. Dari data ini bisa diperoleh kesimpulan sementara bahwa insektisida berbahan aktif alphacypermethrin dan cypermethrin bisa digunakan sebagai insektisida pengendali vektor nyamuk yang potensial selain malathion. Ini merupakan antisipasi bila nyamuk telah resisten terhadap malathion mengingat malathion sangat umum digunakan. Seperti contoh di Kota Makassar. Memang belum ada resistensi terhadap insektisida malathion, namun telah Nampak adanya kerentanan menurun (cenderungan akan resisten) pada wilayah yang sering terpapar yaitu Maricaya (Hasanuddin Ishak, Zrimurti Mappau dan Isra Wahid : Uji Kerentanan Aedes aegypti Terhadap Malathion dan Efektivitas Tiga Jenis Insektisida, propoksur komersial di Kota Makassar).

Dari sisi kesehatan, insektisida golongan pyrethroid termasuk alphacypermethrin, cypermethrin, dan lambdacyhalothrin sintetik memiliki keunggulan yaitu pada penggunaan yang cukup lama tidak perlu dilakukan pemeriksaan kadar cholinesterase dalam darah operatornya. Hal ini diakibatkan oleh efek timbulnya cholinesterase oleh golongan pyrethroid yang cukup rendah. Ini merupakan kelebihan golongan pyrethroid dibandingkan dengan golongan organofosfat (malathion)
Hasil perbandingan efektifitas penelitian yang digambarkan dalam grafik serta kelebihan dari sisi kesehatan (rendahnya efek cholinesterase) yang dimiliki golongan pyrethroid menjadikan golongan pyrethroid potensial untuk digunakan sebagai bahan pengendali nyamuk lain di samping malathion. Tentu saja jenis dari hasil penelitian ini jenis yang dipilih yaitu alphacypermethrin dan cypermethrin karena dua jenis inilah yang kemampuannya membunuh nyamuk mendekati atau boleh dikatakan setara dengan kemampuan malathion seperti yang dibahasakan oleh peneliti.
Kesimpulan ini merupakan kesimpulan sementara yang tetap perlu dibuktikan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut terutama mengenai sisi kesehatan penggunaan golongan pyrethroid, dalam hal ini adalah alphacypermethrin dan cypermethrin. Juga diperlukan penelitian mengenai insektisida golongan lain untuk mencari kemungkinan adanya golongan yang lebih potensial dibandingkan keduanya. Dari hasil penelitian itulah yang nantinya menentukan layak tidaknya kedua jenis pyrethroid tersebut dijadikan insektisida andalan baru setingkat malathion.